Trinity of Fantasy

EVERNA Exploring Worlds of Fantasy (English)
http://fireheart-vadis.blogspot.com/
Everna and FireHeart Saga Novels by Andry Chang, research notes and records about worlds of Fantasy/Epic Fiction in general

Fantasy Worlds Indonesia (Indonesian)
http://fantasindo.blogspot.com/
News and updates about Everna Saga - FireHeart Published Novels by Andry Chang in Indonesian Language
and reviews about Indonesian fantasy fiction writers, aspiring writers and creators in general

EVERNA Codex Evernium (English-Indonesian)
http://evernade.blogspot.com
EVERNA SAGA Wiki, Lore and Encyclopedia
Come forth, Paladins! Fulfill Your Destiny!

Explore Everna With Google

Google

CODEX EVERNIUM Asal-Usul, Agama, Bahasa dan Budaya di Everna



 
Sang Sumber Mencipta Semesta - Sumber Gamber: suntwirl.deviantart.com

KISAH SANG SUMBER Andry Chang

CODEX EVERNIUM – Asal-Usul Semesta Omnia, Dunia Terra Everna dan Agama di Everna

Pada mulanya, hanya ada gelap dan ketiadaan. Segalanya hampa, segalanya tiada.
Lalu setitik energi terpercik dari ketiadaan itu, membentuk sebuah zat muasal yang disebut Sang Sumber. Melahirkan sebuah kesadaran baru, makhluk, energi, sekaligus benda pertama di seluruh jagad raya.
Seiring waktu yang mulai berjalan, Sang Sumber tumbuh dan terus berkembang, hingga bagaikan bayi dalam telur sebesar jagad raya. Akhirnya, di puncak kejenuhan dan pertumbukan antara zat dan energi itu, cangkang Sang Sumber yang berbentuk satu matahari sebesar jagad meledak. Ledakan besar itulah yang kemudian disebut Supernova.

Serpihan-serpihan Supernova itu kemudian membentuk bintang-bintang dan planet-planet, menyebar hingga ke ujung-ujung terjauh semesta. Kumpulan-kumpulan bintang dan planet itu membentuk galaksi, gugusan rasi bintang dan unit terkecil, tata surya dengan jumlah tak terhitung banyaknya.

Sang Sumber yang lahir dari Supernova itu memandang jagad raya dengan amat sukacita, dan menamainya Semesta Omnia. Apalagi di banyak sekali planet bersemayam pula energi-energi kehidupan yang sejiwa, sesinergi dengan sumbernya, Sang Sumber sendiri. Sang Sumber tahu ia tak sendirian di jagad raya ini, dan sukacitanya sempurna sudah.

Namun, keberadaan Sang Sumber terlalu mulia, ilahi, besar dan maha kuasa. Ia tak ingin mengistimewakan planet, ras atau entitas kehidupan tertentu dengan tinggal di salah satu planet itu. Walaupun ada satu planet biru yang termasuk paling ideal di matanya, yaitu Terra Everna. Apalagi setelah melihat sebuah planet berpenghuni tiba-tiba meledak dan musnah, Sang Sumber tahu ia punya tanggungjawab untuk memelihara seluruh semesta itu. Bintang-bintang dan planet-planet terlahir, tapi juga bisa musnah. Perlu semesta yang lebih ideal, yang lebih abadi dan sejati daripada “cangkang” ini.

Karena itulah Sang Sumber mengerahkan segala kemahakuasaannya yang tak terbatas, menciptakan sebuah semesta lain yan lebih kuat, kekal dan abadi daripada Omnia, “semesta cangkang” ini. Inilah sebuah jagad dalam dimensi ilahi yang kemudian dinamakan Aethera, alias surga.

Dari surga, Sang Sumber mengawasi dan memperhatikan perputaran alam dan kehidupan itu, mengamati bagaimana makhluk-makhluk sebuah dunia tumbuh, berevolusi menjadi lebih sempurna dan makin serupa dengannya. Seiring waktu, kerinduan Sang Sumber untuk mengundang para makhluk jagad fana, Semesta Omnia itu tinggal di jagad baka, Semesta Aethera ciptaannya makin tak tertahankan.

Sang Sumber juga menciptakan makhluk-makhluk surgawi, termasuk malaikat, namun mereka tercipta hanya untuk melayani, hidup seperti warna putih-bersih, bukan penuh warna yang bervariasi dengan berbagai hal, termasuk petualangan seru. Tanpa itu semua, Sang Sumber hanya bisa kesepian.

Gawatnya lagi, kesepian itulah yang menggugah sisi hitam, gelap dan negatif dalam diri Sang Sumber berontak. Ia lantas menciptakan jagad kegelapan yang disebut Nethera, alias neraka. Untuk sementara, neraka hanyalah jagad kosong yang menjadi tempat Sang Sumber melampiaskan rasa bosan dan kesepiannya, mencicipi serunya petualangan sendirian sebagai rekreasi sebelum kembali ke surga dan bertugas kembali.

Nama-nama jagad raya di dimensi tempat Ranah Everna berada:

Omnia: Jagad raya yang bersifat alami dan fana, dapat lahir namun bisa pula musnah.

Aethera: Jagad raya yang bersifat baka, disebut pula surga. Jagad Aethera adalah ciptaan Sang Sumber yang sempurna dan abadi. Lafal Bahasa Indonesia: Aedera.

Nethera: Jagad raya yang bersifat baka, disebut pula neraka. Jagad Nethera semula diciptakan untuk memuaskan sisi gelap dan kerinduan Sang Sumber, namun berkembang menjadi “penjara” untuk menyiksa jiwa-jiwa jahat dalam keabadian. Lafal Bahasa Indonesia: Nedera.

Sampai di suatu zaman di Terra Everna, evolusi mencapai puncaknya lebih dini dari ranah manapun di Omnia. Muncullah entitas ilahi yang serupa dan setingkat di bawah Sang Sumber, yaitu dewa.

Sang Sumber melihat kesempatan akhirnya tiba, berencana memanfaatkan para dewa untuk mengajak umat manusia, makhluk fana yang paling sempurna untuk “pulang” dan tinggal di Aethera, jagad baka ciptaan Sang Sumber.

Kenyataannya, para dewa malah punya rencana sendiri-sendiri. Mereka malah menciptakan “surga-surga dunia” yang sebenarnya juga bisa musnah karena masih berada dalam jagad fana, Omnia. Mereka mengacuhkan semua pesan, kabar baik Sang Sumber yang seharusnya mereka sampaikan ke seluruh dunia, dalam hal ini Terra Everna. Dan mereka hidup abadi dengan cara mereka sendiri, dalam kemewahan dan kesenangan semu yang bisa saja musnah suatu saat nanti.

Para dewa itu juga bahkan membangun “surga-surga dunia” yaitu Valhalla, Elysion dan sebagainya, atau “neraka-neraka dunia”, yaitu Hades, Udgard, Dunia Bawah, dan sebagainya, menampung roh-roh orang mati di sana. Bahkan tempat-tempat itu terpisah dari “ibukota-ibukota dewata” tempat para dewa tinggal dan mengatur dunia, yaitu Olympus, Asgard, Shangri-la dan lain sebagainya.

Sang Sumber bahkan telah mengirimkan utusan dan pesan, memperingatkan para dewa bahwa cara mereka ini akan berujung pada perang dan kehancuran global, namun mereka malah membunuh para utusan itu dengan cara yang amat mengerikan. Walau benar-benar murka, Sang Sumber terlalu mengasihi Everna, sehingga ia terus-menerus mengirimkan utusan dan peringatan.

Akhirnya, kekuatiran Sang Sumber terbukti sudah. Perang Dunia Antar Dewa, juga antara kaum dewata, manusia, siluman dan monster meletus sudah. Perang ini dinamakan Ragnarok atau Armageddon.

Perang-perang itu semula tampak sporadis dan lebih ke perang saudara antara para dewa di “negeri-negeri dewata” yang sama. Namun, kemunculannya yang serentak menimbulkan kerusakan teramat parah di seantero dunia. Di akhir segala akhir, dewa api dari Valhalla, Surt meledakkan inti Everna sehingga seluruh dunia musnah dilalap api abadi. Inilah Kiamat Dunia Pertama Everna yang juga disebut Apocalypse.

Sang Sumber amat berduka, akhir Dunia Everna ini sungguh di luar dugaannya. Terpaksa ia turun tangan sendiri dengan menciptakan Zaman Es, memadamkan semua api yang ada dan berusaha memulihkan Everna dengan cara yang alami.

Sang Sumber lalu menyerahkan pengelolaan Planet Everna di zaman ini pada seorang dewi es terkuat yang selamat dari Apocalypse, yaitu Freyja. Freyja mengubah namanya menjadi Frei Val’shka dan memerintah seluruh Everna selama seribu dua puluh empat tahun, sepanjang Zaman Es Kedua ini.

Mengulangi kesalahan para pendahulunya, Frei Val’shka juga lupa diri dengan mengira dirinya lebih berkuasa daripada Sang Sumber dan ingin mengatur Everna sesuka hatinya. Maka, di akhir Zaman Es, pembalasan pada Val’shka sekaligus perampungan pemulihan dunia datang dari perlawanan umat manusia bersama para pahlawan terkuat, termasuk sepasang kekasih yang melegenda, Vazar dan Marvella.

Memasuki Era Dunia Kedua, Sang Sumber memutuskan sudah saatnya ia turun tangan sendiri dalam kesempatan kedua di salah satu dunia yang paling ideal dan kesayangannya ini.

Sang Sumber sadar bahwa dirinya merupakan wujud perpaduan tiga unsur dasar yang berseberangan. Karena itulah, agar tak jadi seperti dewa-dewa Dunia Pertama, Sang Sumber menciptakan tiga entitas terpisah, pecahan-pecahan yang berasal dari esensi dirinya sendiri. Vadis, dari esensi positif, terang dan suci; Adair, dari esensi negatif, kegelapan dan kematian dan Enia, dari esensi netral, kehidupan dan alam.

Jadi, di Everna hingga Zaman Penjelajahan Antariksa dan seterusnya, berkembanglah ajaran-ajaran monotheisme dan keagamaan yang tersebar merata di seantero dunia, yaitu:

Agama Vadis: Memuja Vadis sebagai Bapa Waktu, Matahari dan Cahaya di Everna, dalam hubungannya sebagai pemelihara dunia yang bekerjasama dengan Enia dan Adair.

Agama Enia: Memuja Enia sebagai Bunda Alam, dalam interaksinya dengan Vadis Sang Matahari dan Adair Sang Bulan. Inti ajarannya adalah pelestarian alam untuk memelihara kehidupan.

Agama Adair: Memuja Adair sebagai Bapa Pemberi Batas Waktu, Bulan, Bintang dan Kegelapan. Ia adalah sumber takdir untuk perwujudan ambisi, kekuasaan dan kejayaan.

Agama-Agama Heretik: Memuja dewa-dewi lama Dunia Pertama, mengira mereka masih berkuasa atas takdir di Everna. Padahal setelah Apocalypse para dewa itu tercerai-berai, entah tinggal di surga, neraka ataupun bereinkarnasi sebagai makhluk-makhluk fana namun sakti atau ajaib.

Ajaran-Ajaran Sesat: Sekte-sekte yang biasanya bersifat rahasia bermunculan dari waktu ke waktu. Kebanyakan adalah pemuja figur-figur kejahatan seperti Frei Val’shka, Vordac, Arachus, Mephistopheles, Xylen, Nöac, Ahriman, Kali, Tholocaus dan lain sebagainya.

Sejak Zaman Peradaban Kuno dan terutama sepanjang Zaman Sihir, Agama Vadis berkembang dan tersebar amat pesat. Agama Vadis mendapat banyak tantangan dan hambatan dari Laskar Kegelapan yang dipimpin Vordac, Arachus lalu Mephistopheles dan para penerus lainnya. Walau demikian, sejarah mencatat bagaimana ajaran kebaikan ini selalu berhasil bertahan dan berkembang, karena memang agama-agama resmi itu dijalankan lewat keteguhan hati dan jiwa para penganutnya.

Vadis, Adair dan Enia, para dewa Tritunggal sempat hadir dan menyebarkan ajaran mereka masing-masing di seantero Everna. Maka, ada agama-agama versi lain dan nama-nama sebutan lain untuk Vadis-Adair-Enia di beberapa jazirah, di antaranya: 

Jazirah Antapada: Sang Mahesa (Vadis), Sang Angkara (Adair), Sang Srisari (Enia)
Benua Ubanga: Asvai (Vadis), Voodu (Adair), Uma (Enia)
Negeri Wushu: Shen Wang (Vadis), Mo Wang (Adair), Tie Mu (Enia)
Negeri Shima: Shin (Vadis), Yami (Adair), Ama (Enia)
Jazirah Al-Kalam: Al Khalik (Vadis), Al Gajjal (Adair)

Dengan berkembangnya agama-agama inilah, Sang Sumber memenuhi kerinduannya. Ia telah mendatangkan banyak jiwa untuk pulang, beristirahat dan hidup bersama di surga sejati. Walau banyak pula jiwa yang terhilang di neraka atau bereinkarnasi, setidaknya inilah solusi terbaik bagi Terra Everna hingga ke akhir segala zaman.

CODEX EVERNIUM – Persebaran Bangsa, Budaya dan Bahasa di Everna
Pada dasarnya, di Terra Everna tak pernah ada peristiwa kekacauan bahasa seperti peristiwa Menara Babel di Bumi. Di Zaman Permulaan Dunia Pertama, sempat terjadi konflik antar sesama manusia, yang semula tinggal bersama dalam satu wilayah saja. Konflik ini lantas berujung pada peperangan yang hampir memusnahkan seluruh populasi manusia di Everna.

Jadi, semua manusia yang tak mau terlibat dan menghindari perang itu pergi dan mengungsi, menjelajah seantero Everna untuk mencari wilayah yang lebih baik dan lebih pantas dijadikan tempat tinggal.

Karena sempat tinggal bersama-sama di satu wilayah, semua negeri di Everna menggunakan bahasa asal-mula yang tetap berlaku secara global sampai selama-lamanya. Namun, sejak tinggal terpisah itulah, selama berabad-abad tiap negeri di Terra Everna juga mengembangkan istilah-istilah dan nama-nama sendiri. Biasanya itu berdasarkan hal-hal baru apapun yang mereka temukan dan ciptakan di tanah air baru mereka itu, atau sekadar pembeda bagi versi lain hal atau benda tersebut di negeri-negeri lain.

Terpengaruh oleh insiprasi alam bawah sadar dari dunia cerminannya di Dimensi Bumi, nama-nama yang dipilih malah sama dengan nama benda khas tersebut di Bumi. Misalnya: Pedang katana, gaun kimono, sayur kimchi, hidangan sushi, nama fenghuang untuk burung phonenix dan lain-lain.

Budaya yang dikembangkan dan ciri-ciri penduduk di negeri-negeri tersebutpun amat mirip Bumi. Contoh, ciri-ciri penduduk dan budaya Taehon di Everna persis sama dengan ciri-ciri di Korea di Bumi. Penjelasan yang paling logis untuk terjadinya fenomena ini adalah karena ada kekuatan mahakuasa dari Bumi, tepatnya Sang Sumber sendirilah yang membimbing setiap suku yang mengembara itu ke tempat masing-masing yang cocok untuk mereka, yang sengaja diatur supaya tercermin dengan Bumi.

Sedangkan bahasa-bahasa baru yang benar-benar orisinil di Everna hanya bahasa-bahasa untuk mantra atau pemicu sihir dan penghubung ke alam gaib. Yang paling terkenal adalah Bahasa Runik, Bahasa Eirienne dan Bahasa Encanta (mirip Bahasa Latin-Campur-Sansekerta di Bumi).

Comments

Popular Posts